February 2, 2023
Sumber kecemasan media sosial Foto : Android


Sosial Media memang paling bagus untuk mencari informasi dan lain-lain.

Diawal bulan ini warga plus 62 mau cerita sedikit tentang Sosial Media.

Sebelumya saya mau tanya dulu kepada kalian semua, karena pertanyaan ini lebih dari satu poin ya, ayo kita mulai.

1. Adakah seseorang yang kalian mute/senyapkan di sosial media

2. Adakah orang-orang yang kalian ikuti dengan rutin di media sosial.

3. Punya akun fake gak.

4. Apa yang didapat dengan mementingkan sosial media

5. Beberapa lama kalian menghabiskan waktu di media sosial.

6. Semua dari kegiatan yang kalian lakukan normal tidak.

Kalian bisa jawab dari hati maupun langsung komentar di kolom komentar ya.

Dari 6 pertanyaan di atas cukup mengganggu sekali dalam bersosial media. Seperti pertanyaan yang pertama, semengganggunya orang lain ya buat aku sampai aku tidak ingin melihat ceritanya? Karena ceritanya tidak penting banget, bahkan menggangu.

Sebenarnya cerita mute orang lain itu tidak apa-apa, karena kita punya kontrol terhadap apa yang kita lihat.

Oke yang kedua, ada gak sih orang yang seperti kita rutin di sosial media?

Kalo yang kita ikutin ini jadi pedoman buat hidup lebih baik sih oke oke aja, tapi gimana kalo yang kita ikutin malah mempengaruhi hal yang buruk di hidup kita.

Misalnya bela-belain buat akun fake supaya bisa kepoin mantan, atau tokoh masyarakat dan selebgram, berpotensi mempermainkan emosional kita.

Yang bener saja? Menghabiskan kouta dan waktu aja untuk melihat kabahagian orang lain yang kemudian membandingkan dengan kita, iya kalo setelahnya memperbaiki diri,

Lebih parahnya lagi kalo dengan mengikuti seseorang kita malah membenci diri sendiri.

“Iya diakan lebih banyak followernya” “kok aku gak kayak diabya”? Dan hal lainnya yang akhirnya mengutuk diri kita sendiri. Ini lebih dari gak penting.

Kegiatan bersosial media yang akhirnya menyakiti orang lain komen sesuka hati, tidak mikir panjang buat orang yang kita komen.

“Alay banget gitu aja di video” “sok cantik” “story gak jelas” dan tanpa disadari komen kita buat orang lain juga merasa insecure, patah harapan dan kekecewaan.

Kemudian juga memabanding-bandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaian diri sendiri. seolah-olah, rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri.

Kegiatan yang seperti ini itu sebenarnya penting tidak?

Apa yang kita dapat berjam-jam bersosial media? Kedengkian? Ketidak puasan terhadap diri sendiri? Percuma sia-sia.

Dan kalo kita udah sadar dengan tidak ada gunanya ini, langkah apa yang sebaiknya kita tempuh untuk memperbaikinya?

Yang pertama yang harus dilakukan adalah dengan memahami, kenapa harus mute orang ini, kenapa harus follow orang ini, kenapa harus tau hidup orang lain, nah dengan begini kita bisa sadar tentang tindakan kita sendiri dan apa maknanya bagi kehidupan kita.

Selain itu kita juga perlu mengontrol durasi kita dalam bersosial media, ya kali 24/7 dihabiskan untuk liat cerita orang lain, tapi tidak buat cerita hidup sendiri.

Nah jadi durasi kita juga penting untuk bersosial media. Dan juga jaga kesehatan mata, hati, pikiran dan juga jaga kantong biar tidak terlalu boros.

Leave a Reply

Your email address will not be published.